Noize - Hentikan (Ft. BT_Noid)
from angga arista nebal 2002
silahkan download lagunya ;
http://www.ziddu.com/download/3924335/Noize-HentikanFt.BT_Noid.mp3.html
Selengkapnya...
Kamis, Maret 19, 2009
Noize - Hentikan (Ft. BT_Noid) from angga arista nebal 2002
Selasa, Maret 17, 2009
Ada Band - Armada Masa Depan
Indah persahabatan
Ta pernah hilang di memori ini
Tertawa bersama
Meski selali diiringi oleh kesedihan
Penuh warna
Bila tlah dewasa
Terkadang kita kekanak-kanakan
Selalu berkhayal
Namun melangkah dengan cita - cita yang mulia
Anugerah sang kuasa
Reff :
Kitalah armada masa depan
Yang akan mengukir dunia
Raih semua bintang
Dan tebarkan sinarnya terangi semesta
Takkan dipungkiri
Nanti kita akan menjadi tua
Jangan dibiarkan bergulirnya waktu
Hanyalah memakan usia
Tak jelas tujuannya
Bridge :
Hempaskan ragu dan kegalauan
Gapailah semua angan mimpimu
Cerahnya hari bila tercipta
Maha karya anak manusia
Koleksi Ada Band yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Ada Band - Armada Masa Depan
Gambar Artis Indonesia
Selengkapnya...
Cuek Tapi Ada Sesuatu…..?
Nasibnya sama dengan kemarin menyapanya dengan tanpa mengeluh mengiringi langkah-langkah lelaki itu dimana telah menanti tanggung jawab siap tuk di pikul. Temen-temennya biasa memanggilnya Bagus ia memilki Tubuh yang kecil dan mata yang sipit persis anak keturunan Tio Hoa padahal ia asli keturunan tanah Jawa, namun sayang kulitnya hitam legam mirip orang negro.
Dengan sepeda motor kesayangannya ia melaju merayapi jalan yang berliku karena medannya tanah-tanah licin penuh batu-batu kerikil tajam menantang dipagi buta itu. Bagus mencium segarnya udara menusuk sela-sela lubang hidungnya, sesampai di tikungan terdengar klakson berteriak seakan menyuruh ia berhati-hati dan mata sipitnya makin menciut menyorot tajam bersiap-siap untuk menghindari tabrakan, maklum namanya juga di pingiran ibukota.
Bagus bergegas menuju ruang loker namun sesampainya ia merogoh-rogoh kantong celana jeansnya yang udah berubah warna karena sebulan belum cuci. Sejenak lelaki itu termenung ternyata ia lupa membawa kunci lokernya.
“ki, gw titip tas gw dong ” katanya, agak memelas.
“dasar pelupa, taruh disini” sahut Eki.
“thanks ki.”
“Gus, Jadi ga ke kosan gw?”
“Sip.. tapi gw balik dulu, terus baru ke tempat lu.”
“gw tunggu lu!”
“yap ! ”
Dengan tersenyum, Eki menatap wajah sang amnesia yang berlalu meninggalkan loker dan ini bukan kali pertama terjadi.
Sorenya.
“ki... ki...” panggilnya, sambil membuka pintu kamar temennya.
“masuk gus, mau minum apa? Jeruk, Kopi atau teh hangat” tawar Eki langsung.
“ah.. kaya tamu jauh aja gw, udah ga usah.”
“ya udah bikin kopi aja ya biar ga ngantuk, ok.” Rayu Eki.
“terserah lu aja deh!”.
Sedang asik mengobrol tiba-tiba di balik daun pintu nampak sesosok Hendri, sang Raja jahil yang udah banyak memakan korban.
“Woii... ngapain lu berduaan di kamar?” mengagetkan.
“Dri.. Dri... kebiasaan lu ga hilang-hilang, sini gabung.” Dengan reflek menatap Hendri
Menurut fakta memang terbukti benar kalo yang biasa cowok obrolin tuh gak jauh seputar Olahraga, Film dan pastinya tentang cewek seperti yang sekarang lagi mereka debatkan di kamar. Diantara mereka, Hendrilah yang terdepan soal memikat cewek karena kini tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melakukan kewajiban sebagai orang dewasa yaitu Married.
******
“Gus.... Gus....” Eki mengajaknya bicara namun tak ada jawaban dari temennya itu. Eki agak kesal lantaran dicuekin sambil menatap temennya itu penuh dengan pertanyaan sebab pandangannya hanya berpusat pada satu titik yang ada di seberang jalan. Mulus kulitnya sepeti kertas putih tanpa tinta yang menari di atasnya, hitam matanya pasti menusuk hingga menembus dinding-dinding hati setiap para pria yang memandangnya, jika gadis itu tersenyum seolah menawarkan kebagahiaan, helai rambutnya yang tak sampai menyentuh bahu mencerminkan ia sebagai seoarang gadis tomboy. Seketika Bagus mulai tersadar, ada bau-bau apek yang tercium olehnya dan ternyata berasal dari temen yang ada di sampingnya sebab Eki belum mandi sepulang kerja. ” woi.. mandi lu asem banget kalah nih terasi sama badan lu” suruh Eki. Usut punya usut ternyata Bagus diam-diam terpesona oleh Resty yang kos bertetanggaan sama Eki, mereka berniat menyusun rencana.
“Ki, gw bisa dapetin perhatian dalam waktu 2 minggu” Janji Bagus.
Diakuinya, ia ngejomblo hampir 1 tahunan ini karena pernah patah hati oleh mantannya dulu, tanpa alasan pacarnya meninggalkan ia begitu saja bersama teman satu tongkrongannya padahal ia masih sayang banget dan itu amat melukai perasaannya hingga butuh waktu lumayan lama untuk melupakan itu semua, ia kini mulai jatuh hati lagi pada cewek tomboy itu. Ia berharap bisa melupakan pahitnya yang dirasakan setelah beberapa tahun lalu. Tujuan Bagus menyusun rencana sesungguhnya agar ia dapat mengerti sifat si cewek itu sebelum mengutarakan isi hatinya mungkin juga dibayang-bayangi rasa cemas yang begitu besar karena takut nanti terluka dan menyesalinya untuk kesekian kali.
Rencana pertama Bagus, mendekati ibu kos agar mau mendukungnya itupun tanpa sepengetahuan Resty. Dan rencana pertama berjalan lancar. “ yang penting niat kamu baik dan jangan sampai merusak kepercayaan ibu ke kamu, Ibu pasti ngijinin kamu main kemari” pesan Ibu kos. Namun dengan beberapa syarat yang harus di sepakati seperti: ia harus pulang ga boleh lebih dari jam 10 malam.
Yang kedua, Setiap Bagus berpapasan muka dan berperang mata ia hanya menebar senyum kecil tanpa ada satu katapun keluar dari mulutnya. Bukan berarti Bagus dingin akan cewek tapi ini semata-mata demi strategi untuk sementara waktu. Tak terasa waktu hampir mendekati 2 minggu tinggal beberapa hari lagi, Bagus mulai lebih sering mendekatinya. Tak jarang mereka mengobrol berdua, itu yang membuat Resty menaruh penasaran cukup besar bergejolak dalam hatinya “Bagus tuh seorang cowok seperti apa sih? Kalo ketemu kadang dia cuma senyum doang” pikir Resty dalam hati.
Sampai rencana terakhir masih berjalan lancar, disini Bagus mendatangi Resty dengan alasan menjenguknya dimulai sedikit agak berbasa-basi ia mulai mengajaknya mengobrol. Bangku dan meja serta pajangan yang menghiasi ruang tamu umum menyaksikannya. Seperti terdorong oleh kekuatan yang tak tau darimana asalnya, dirasakan Resty saat mengetahui Bagus sengaja menemuinya.
“Res, aku denger kamu sakit!” Bagus mulai menunjukkan perhatiannya.
“ya nih mungkin aku kecapean kerja aja kali.” Jawab Resty dengan wajah yang tampak agak pucat.
“Udah ke dokter belum?”
“kayanya gak perlu ke dokter deh cuma butuh istirahat aja.”
“ya udah, aku minta maaf kalo aku ganggu waktu istirahat kamu, nih aku bawa buah-buahan buat kamu, aku doain deh semoga cepet sembuh. Jangan lupa yach dimakan buahnya.”
“ga kok kamu ga ganggu kebeneran aku baru aja bangun. Oh ya.. thank’s buahnya.”
Rasa penasaran Resty makin bertambah “kok Bagus perhatian ya ma gw padahal gw lihat dia tuh orangnya cuek” sejenak Resty termenung “atau ber..a..rti ada sesuatu…?”
Sama halnya dengan yang Bagus alami Resty memutuskan hubungan sang pacar belum lama ini sebab pacarnya terlalu egois untuk saling berbagi rasa. Makanya Resty masih belum bisa menerima yang lain untuk mengisi ruang dalam hatinya, dia butuh waktu untuk melupakannya.
Di tempat Eki, ia melihat Resty berdua sama Zakir yang juga satu kerjaan sama mereka, Bagus menahan sekuat tenaga api cemburu yang mencoba menghanguskan hatinya. Resty banyak di kenal di tempat kerjanya karena kantor mereka juga bertetanggaan. Gak heran mengapa Resty begitu dikenal sebab wajah manisnya itu banyak dikagumi oleh cowok yang melihatnya. Hampir aja Bagus menyerah tapi Eki kembali mengingatkan bagus “ingat gus waktu lu 4 hari lagi”
Sehabis kejadian itu Bagus tak pernah menampakkan batang hidungnya di sana. Pikir Eki ia udah menyerah, sehari ini Bagus terlihat lemah di kantor mungkin Resty yang menggangu pikirannya. Namun perkiraan tentang Eki semua salah, ia tak pernah datang karena memang ini salah satu bagian dari rencananya dan mengapa ia terlihat lemah itupun karena kondisi badannya yang sedang kurang fit. Ada pekerjaan yang harus ia selesaikan dan belum juga rampung akibatnya ia nampak agak stress.
Resty tak mengerti mengapa ia belakangan hari ini gelisah tak menentu. Mungkin bisa dibilang dikarenakan hari ini tidak melihat Bagus nongkrong di sebelah, diam-diam Resty juga memperhatikan Bagus dari kejauhan. Lidah enggan berbicara, tangan halusnya hanya sanggup menggerakkan pena yang biasa ia tumpahkan dalam diary selalu bercerita tentang apa yang ia alami setiap detik. Diary menjadi satu-satu teman yang dipercaya bisa menjaga rahasia hidupnya. Daun Telinga terasa hampa gak ada suara-suara gitar mengalun dari tempat Eki. Dan mata birunya tak kuasa menolak untuk terpejam menanti Bagus di taman mimpi.
*****
Hujan berhenti turun membasahi bumi, genangan-genangan kecil tertinggal mengisi jalanan aspal. Resah dan gelisah mengeluti jiwanya menunggu angkot tak kunjung lewat. Dari kejauhan tampak sesosok lelaki mengendarai sepeda motor bututnya warisan bapaknya yang katanya pernah jadi sepeda motor idaman semua pria jaman itu. Bagus tak segan lagi membelah dinginnya malam tak peduli jalanan licin. Dilihatnya Resty sendirian di halte Bagus langsung menghampiri tepat di depannya menawarkan tumpangan. Resty menerima tawarannya dan gak sadar ia memeluk Bagus sebab tak tahan udara malam yang semakin menusuk kulitnya. Di atas dua roda mereka melaju kencang di tengah kota sebab jalanan terlihat sepi oleh berbagai macam kendaraan dan tak terdengar klakson-klakson yang jika pagi datang meramaikan sepanjang jalan ini. Malam bertambah indah di hiasi lampu-lampu kota menerangi sudut-sudut pinggiran jalan yang dilaluinya. Tak terasa mereka tiba di gerbang pintu kos-kosan Resty.
“Makasih ya, udah mau memberikan tumpangan buat aku !” dengan senyum kecil telah terbentuk di wajah si tomboy.
“Biasa aja lagi, lagian kita ‘kan tetanggaan. Kalo setiap pulang kerja aku jemput aku ga keberatan kok” tawar Bagus.
“Aku merasa ga enak ngerepotin kamu Gus dan aku juga takut ada yang marah kalo liat kita”.
“Aaaku.. mana ada yang mau ma cowok kaya aku, Res. Justru aku malah seneng bisa jemput kamu”.
Resty nambah salah tingkah atas jawaban Bagus. Bagus mengajak Resty nonton malam minggu besok.
“Res, kamu ada acara gak besok malam?”
“Mang napa, kamu mau ngajak aku jalan” terka Resty.
“iya, itupun kalo kamu ada waktu, Aku mm..mo nga..jak kamu nonton, mo ga?” sedikit terbata-bata.
“Sebenarnya sih aku lagi ga mo kemana-mana ta..pi... bt juga sih di kamar aja. Ya udah, ingat kamu jemput aku jam 7 jangan pake telat. Ok!”
“Sip jam 7 ya, aku jemput.”
Detak jarum jam tangan Bagus menunjukkan pas pukul 7 WIB. Bagus tepat berdiri di depan pintu gerbang dengan setangkai mawar merah dalam genggaman tangan kiri bersembunyi di balik punggung siap dipersembahkan tuk gadis tomboy yang akan di ajaknya kencan malam itu.
“Assalamualaikum..” sambil mengetuk pintu.
“Walaikum salam. Krrtak..” di bukanya pintu bersamaan dengan muncul sesosok perempuan setengah baya yang di kenal sebagai ibu kos.
“Maaf bu, ada Resty, saya juga ingin meminta ijin malam ini saya berniat mengajaknya makan malam di luar.”
“Boleh saja, tapi ingat jangan lewat jam 10 ya. Resty ada di kamar, silahkan masuk tunggu di ruang tamu.”
“Ga usah biar saya tunggu di teras aja”
“Ya sudah sebentar saya panggilkan Resty.”
Tercium wangi Resty yang semakin mendekat, mengenakan baju ala lelaki plus celana jeans yang selalu dipakai setiap dia berpergian.
“Gus, udah lama nunggu yach.” Tanya Resty
“ah .. ga kok, aku baru aja datang.” Sambil memberikan setangkai mawar yang sudah disiapkan “ini buat kamu..”
“Ini tuk aku Gus, memangnya kamu mo ngajak aku kemana sih?”
“Tar juga kamu tau, ya udah yuk tar kemalaman.”
Tiap sudut ibukota telah mereka kelilingi, akhirnya mereka singgah di Café itu. Setelah lelah berkeleling Bagus memesan menu makanan special dan 2 segelas es jeruk yang terkenal dari Café itu. Ditambah musik romantis dari penyanyi Café yang sengaja dia request untuk menghangatkan suasana. Canda tawa mengiringi obrolan mereka sehingga tak tampak wajah-wajah bt dan monoton, mungkin mereka bisa dibilang satu hati sebab banyak pemikiran mereka yang sama seperti masalah memilih teman. Saking asiknya mereka berbincang detak jarum jam tak terasa hampir menunjukkan jam 10. Bagus tak mau mengingkari janjinya, ia akhirnya mengantar Resty tepat waktu sampai depan gerbang pintu kos.
*****
Mereka telah saling mengenal itu menandakan bahwa Bagus punya harapan tuk menyatakan perasaannya. Karena Minggu besok hari terakhir untuknya, lalu Bagus mengirim sms “ Res, besok aku mau ngajak kamu ke suatu tempat dimana kamu belum pernah kesana sebelumnya, nanti aku jemput.” Wajah Resty tersenyum dan itu berarti dia setuju.
Deru suara mesin motor Bagus telah terdengar di depan pintu. Tanpa berbasa basi mereka melaju diantara macetnya kota Jakarta yang dipenuhi mobil angkutan yang terkadang berhenti disembarang tempat membuat kota Jakarta tambah semraut. Bagus mengajaknya ke tempat yang jauh dari hiruk pikuk dan asap-asap kendaraan yang mengotori udara dan menyesakkan nafas. Beningnya air masih nampak jernih tanpa ternoda oleh tangan-tangan jahil ,setets air terjatuh beriringan ke lembah mengikuti dendangan irama kicau sang burung di alam bebas. Dedaunan bergoyang lembut menari bersama tarian angin.
“Wah... indah bange...t”
“Kamu suka tempat ini?”
“Ternyata alam tuh dapat membuat hati kita tenang dan damai yach Gus.”
Tiba-tiba Bagus memegang jemari Resty dan menatapnya dengan penuh harapan “Res,
ijinkan aku mengutarakan sesuatu dan alam yang indah ini biar menjadi saksi perkataanku.”
“memang apa yang mau kamu katakan!” agak penasaran.
“aku berharap, aku boleh mengisi satu ruang disudut hati kamu, yang akan selalu aku sirami dengan kasih sayang.”
“Gus, kenapa kamu yakin kalo aku orang yang tepat untuk hal itu?”
“Res, aku sayang kamu bukan hanya karena wajahmu yang cantik tapi juga karena hatimu yang bijaksana dan dewasa dalam berpikir, itu yang membuat aku kagum dan yakin itu adalah kamu.”
(Ia tak menjawab hanya melontarkan sebuah Senyuman yang membelah suasana seolah menjadi jawaban atas ketegangan perasaan Bagus). Bagus berteriak sempat mengagetkan Resty “ Hai alam dengar sumpahku takkan kubiarkan dia mengeluarkan airmata . Hati mereka kini menyatu dalam udara dan waktu.
Selengkapnya...

